Dear kawan,
Biarkan aku memberitahukannya
kepadamu. Suatu keresahan yang cukup lama tersimpan dan baru sempat ku
tuliskan. Maukah kau mendengarkannya baik-baik? Baiklah, kita mulai saja.
Sadarkah kalian? Kita hidup di
zaman dimana ketika sekelompok manusia duduk bersama, maka gadgetlah yang
menjadi menu utama.
Kalian pernah mengalaminya?
Sms dan janjian begitu lama
direncanakan, tapi saat masa bertemunya tiba, tak ada yang sanggup bertahan
berbagi cerita. Atau kalaupun ada hanya bertahan pada lima menit pertama. Selebihnya
hanya suara-suara penanda bbm masuk, whatsapp grup bersahutan, atau
notification like di instagram. Lantas semua perhatian teralihkan pada ‘hape
pintarnya’ masing-masing.
Remaja sekarang sudah mulai
bertransformasi menjadi generasi yang menunduk, bukan alih-alih karena ghadul bashar,
tapi gadgetlah yang membuat mereka tampak sibuk.
Ironi sekali. Padahal anaknya steve
jobs, miliuner kelas dunia, tidak memperbolehkan anaknya bermain dengan yang
namanya smartphone. Dia malah melepaskan anaknya supaya bebas bermain di sawah,
berkotor-kotor dia di dalam lumpur, dan mencoba berbagai permainan tradisional
lainnya yang menyenangkan. Itu karena dia sendiri sadar tentang bahaya
smartphone yang mencandukan, melenakan atau bahkan menjauhkan anak-anak dari
dunia yang semestinya. Sedang kita berlomba-lomba mencarikan gadget keluaran
terbaru biar dibilang kekinian.
Dan itu juga mengapa perlu
kusampaikan di sini, bahwasanya temanmu adalah siapa yang duduk semeja
denganmu, bukan dia yang tersimpan dalam dunia maya tanpa tahu jelas
keberadaannya.
Hey, bukan sebuah kesalahan kok
punya smartphone. Tentu teknologi ini penting juga biar kita tidak ketinggalan
informasi. Tapi ya alangkah baiknya bila kalian sedang duduk berhadapan,
jauhkan sejenak dari benda apa yang biasa kalian jalankan dengan sentuhan. Tumpuk
dan jadikan sebagai pajangan. Sstt…sahabatmu yang nyata, jangan pernah
diabaikan J
Sambil ngetawain pemandangan, 14
September 2015.