Aku gak pengen pulang malam ini.
Bukan karena benci rumah, bukan karena bosan
dengan yang di rumah. Hanya tidak ingin pulang saja. Aku ingin sendirian.
Menikmati malam tanpa ganguan.
Aku ingin menikmati waktu yang
merambat. Kadang berlari cepat. Aku ingin menangisi apa yang terjadi di balik
hari. Aku ingin menangisi kebodohanku. Menangisi waktu yang kulewati dengan sia
sia. Dari hari ke hari. Aku ingin berkeluh kesah pada Tuhan, mengapa sampai
sekarang aku masih saja hidup. Sedang merasa tak menebar manfaat. Aku merasa
Tuhan terlalu sayang, sehingga membiarkan aku seperti ini. padahal sudah
memperingatkanku sedemikian rupa, bahwa hidup akan berkurang setiap detiknya.
Sedang aku masih gini ginin saja. Kekanakan, manja, plinplan, cengeng.
Aku sedih ketika mengingat Bapak.
Aku tumbuh tidak seperti yang dia harapkan. Aku liar begitu saja. Sedang ia
tidak memperdulikanku. Baginya ini sebentuk kebebasan untukku. Untuk aku yang
tidak tahu diri.
Aku sedih ketika mengingat ibuk.
Membayangkan bagaimana di posisinya saja, seharusnya cukup membuatku bangun dan
bergerak. Nyatanya aku masih saja di sini. Menyesali apa yang terjadi.
Menganggap semua akan berlalu. Iya, berlalu dengan kesia siaan. Ibuk pasti
sedih ketika melihatku seperti ini. mungkin saja ia akan marah, tapi tetap saja
itu tidak mempengaruhiku. Entah sebab apa. Mungkin hatiku terlalu bebal. Entah
atau mungkin sudah menjadi batu.
Tuhan,
Aku berpegang padaMu. Tapi Engkau
terlampau jauh. Terkadang bagiku kau abstrak. Sudah terlalu lama aku tidak
merasa kau begitu nyata. Hatiku sudah beku. Mungkin saja begitu.
Tuhan, tapi aku masih boleh
bertahan dan memperbaiki semuanya kan?