Thursday, April 26, 2018

Belum Ingin Pulang


Aku gak pengen pulang malam ini.

Bukan karena benci rumah, bukan karena bosan dengan yang di rumah. Hanya tidak ingin pulang saja. Aku ingin sendirian. Menikmati malam tanpa ganguan.

Aku ingin menikmati waktu yang merambat. Kadang berlari cepat. Aku ingin menangisi apa yang terjadi di balik hari. Aku ingin menangisi kebodohanku. Menangisi waktu yang kulewati dengan sia sia. Dari hari ke hari. Aku ingin berkeluh kesah pada Tuhan, mengapa sampai sekarang aku masih saja hidup. Sedang merasa tak menebar manfaat. Aku merasa Tuhan terlalu sayang, sehingga membiarkan aku seperti ini. padahal sudah memperingatkanku sedemikian rupa, bahwa hidup akan berkurang setiap detiknya. Sedang aku masih gini ginin saja. Kekanakan, manja, plinplan, cengeng.
Aku sedih ketika mengingat Bapak. Aku tumbuh tidak seperti yang dia harapkan. Aku liar begitu saja. Sedang ia tidak memperdulikanku. Baginya ini sebentuk kebebasan untukku. Untuk aku yang tidak tahu diri.

Aku sedih ketika mengingat ibuk. Membayangkan bagaimana di posisinya saja, seharusnya cukup membuatku bangun dan bergerak. Nyatanya aku masih saja di sini. Menyesali apa yang terjadi. Menganggap semua akan berlalu. Iya, berlalu dengan kesia siaan. Ibuk pasti sedih ketika melihatku seperti ini. mungkin saja ia akan marah, tapi tetap saja itu tidak mempengaruhiku. Entah sebab apa. Mungkin hatiku terlalu bebal. Entah atau mungkin sudah menjadi batu.

Tuhan,
Aku berpegang padaMu. Tapi Engkau terlampau jauh. Terkadang bagiku kau abstrak. Sudah terlalu lama aku tidak merasa kau begitu nyata. Hatiku sudah beku. Mungkin saja begitu.

Tuhan, tapi aku masih boleh bertahan dan memperbaiki semuanya kan?

Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa, seseorang yang mengaku mencintaimu, berbohong dengan alasan yang sepele? Bagaimana bisa, seseorang yang katanya ingin memperjuangkanmu, membersamai langkahmu, berkata tidak jujur dan berlindung dibalik alasan yang tidak masuk akal? Bagaimana bisa, seseorang yang menyertakanmu dalam seluruh rencana hidupnya, tega menghianati hal hal yang kau sepakati itu sebuah janji? Bagaimana bisa, seseorang yang menyebut namamu dalam setiap doanya, tidak mengingatmu ketika akan berkata hal yang tidak sebenarnya?

Dan bagaimana bisa, kamu akan menghabiskan hidup dengan orang yang tak lagi kau percayai seluruh kata katanya?

Friday, April 20, 2018

Prematur

Tuhan,
Batalnya pernikahanku sebenernya bikin aku pengen nangis banyak². Lama². Tapi entah kenapa jatuhnya cuma nyesek. Susah buat keluar.

Aku pengen nangis sampe lega. Sampe plong. Sampe marahku ilang semua. Sampe aku ikhlas dan ridho dengan semua ini. Sampe aku berani buat berdiri lagi, nerusin langkah, dan ngelanjutin hidup.

Aku pengen nangis buat semua yang pernah aku lewati. Buat semua rencana yang kini tinggal wacana. Buat semua janji yang sudah diingkari. Buat semua perkataan yang sudah lupa kapan diucapkan.

Aku lelah, Tuhan.
Tapi aku belom boleh menyerah bukan?