Friday, June 29, 2018

Selamat Menikah, Dilan :')

Dilanku hari ini menikah. Orang yang pernah aku sukai dan menyukaiku juga itu menikah dengan teman madrasahku. Kalau kalian tanya bagaimana perasaanku, tentu saja aku sedih. Sakit sekali rasanya.

Tapi begitulah. Aku masih bisa berkompromi dengan hatiku dan mengatakan kalau aku baik baik saja. Walaupun kau juga tahu, kenyataan kali ini terbaca sebaliknya.

Rasanya aku ingin menertawakan diriku sendiri. Menertawakan hidupku.
Menertawakan semua lebih tepatnya.
Setelah melihat WA stories temenku yang memposting nikahan itu, ingin rasanya aku ngeblock dia dan pergi ke dunia lain berharap bisa lupa. Tapi rasanya entah. Semesta tak berpihak padaku kali ini. Bayangan orang itu dan pasangannya yang duduk di pelaminan membuatku muak karena terus berputar² tanpa mau memahami keadaanku.

Maaf kalau aku kekanakan. Rasanya aku perlu menuliskan ini sebagai tumpahan kesalku. Tumpahan sedihku.
Sebelum semua kembali pada kenyataan dan aku mendoakan kalian.

Selamat menikah, Dilan.
Selamat berbagi kebahagiaan 🌻
Aku pernah menuliskan beberapa kisahku dengan Dilan di buku ini. Walau tak semuanya, tapi ini cukup mewakili. 


Kamar kosong, 26 Juni 2018
08.05 A.M

Friday, June 15, 2018

Sebuah Rahasia

Seorang teman pernah berkata:

"Ha saiki aku tak takon, kowe piye lek ? Isih duwe roso karo mas Fajar ? Mosok blas raono ?"

Atau teman lain yang bertanya:

"Bulek jujur wae saiki, isih duwe roso po ora karo mase ? Lha terus wingi wingi ki piye ? Bulek ki kayake terpaksa ya memutuskan menikah karo mase. Makane pas putus njuk biasa wae.

Sini duduk, aku jelasin baik baik. Mumpung tamu udah pada pulang dan sayur lodeh udah kelar aku panasin.

Beberapa jam yang lalu mas Fajar ngeWA aku. Ngirim template ucapan hari raya. Semacam broadcast yang memang sengaja dikirim ke banyak orang gitu. Aku sih enggak kaget. Aku juga tadi siang kepikiran buat ngeWA duluan, tapi belom sempet malah dianya udah kirim pesen gitu.

Yaudah. Aku dengan tulus hati juga bener bener minta maaf. Atas nama aku sekeluarga.

Ceritanya baru mulai abis ini nih, haha. *Ditimpuk nastar gegara intro yang kepanjangan*

Setelah pesan balasan aku kirim, sebenernya ada rasa nyesek yang tiba tiba nyusup gitu aja. Di ulu hati. Entah kenapa.
Ingatanku kemudian melayang pada semua memori. Pada semua cerita. Pada semua luka.

Kemudian aku merasakan semacam sakit. Dan kesimpulan bahwa 'oh ternyata aku belum sepenuhnya ikhlas memaafkan to' memenuhi seluruh ruang di otakku.

Gaes,
Aku akui aku itu orangnya logis banget. Realistis banget. Aku banyak mengesampingkan perasaan karena aku lebih mengutamakan logika. Sama halnya ketika aku mau memutuskan untuk menikah dengan mas Fajar, kalian tahu aku sangat mengesampingkan rasa kan ? Oke, mungkin lebih tepatnya begini : kalian tahunya aku mengesampingkan rasaku kan ? Kalian tahunya aku mau menikah karena memang desakan orangtuaku (logika 1), karena mas Fajar memang sudah serius jadi apalagi yang mau ditunggu (logika 2), karena adekku juga sudah siap menikah jadi baiknya aku lekas nyari jodoh biar adekku nggak kelamaan nunggu (logika 3).

Sini, aku bisikin. Masih ada banyak yang kalian belum tau, sayaaaang~
Memang yang di atas benar semua, tapi ada fakta fakta lain yang mungkin bisa dipakai untuk meluruskan pendapat kalian tentang aku. Sudah siap ? Haha

Nih,
1. Aku suka sama mas Fajar. Dengan hati. Kalaupun aku orangnya logis banget, tapi kenyataannya aku punya lho, rasa itu. Kemaren saat aku memutuskan untuk menikah, aku memutuskannya berdasarkan logika dan rasa. Aku berusaha menyeimbangkan keduanya. Aku suka dengan segala visi misi hidup mas Fajar, pandangannya terhadap sesuatu, caranya menjelaskan sesuatu, cara dia memperlakukan aku, dan masih ada beberapa hal lainnya. Gausah banyak banyak, nanti kalian baper. Haha
Aku suka dari hati. Sama seperti yang kalian rasakan ketika jatuh cinta dengan seseorang. Ya seperti itu kurang lebih.
2. Aku sakit hati dengan mas Fajar. Aku sakit ketika pada akhirnya mas Fajar berbohong di hal hal yang mungkin kelihatannya sepele. Aku sakit ketika mendapati dia ternyata melakukan suatu kebohongan berulang ulang. Apa dia tidak tau kalau itu mengikis kepercayaanku sedikit demi sedikit ? Juga rasa cintaku sedikit demi sedikit ? Hehe.
Aku meletakkan seluruh kepercayaanku kepada dia. Aku menaruh harapan besar kepada hubungan kita. Aku menepis semua omongan, semua dugaan, semua keraguan dan aku tetap mantap melangkah. Tapi kalian sudah tahu endingnya bukan ?

Kalau kalian tidak benar benar menyukai seseorang, kenapa kalian merasakan sakit hati yang begitu mendalam ?

1 Syawal 1439 H
11.35 P.M