Dear Dilan,
Sudah berapa hari terlewat? Bahkan aku tak berniat untuk mengingat. Pun kalau kau telah benar benar melupakanku, aku akan baik baik saja. Percayalah.
Dan yang harus kau tahu, sebenarnya aku telah memutuskan darinya. Seperti yang dulu pun pernah kulakukan padamu. Memang bukan inginku, tapi memang tugasku. Aku tak menginginkan tumbuh terlalu jauh. Mungkin karna belum waktunya kurasa. Atau diriku yang tak cukup dewasa menghadapi ini semua??
Dilan,
Mungkin aku yang tak cukup hati menjalani ini.
Mari kita akhiri saja,
Bila cinta itu bahagia, mengapa aku tidak???
Yogya, 07 Desember 2014
Monday, December 8, 2014
Tuesday, September 23, 2014
Menunggui Gunung bersama DILAN
Dear Malam,
Kemarin sempat menulis seperti ini di sosmed..
“…someone who take me account to the mount climbing for the first
time (titik dua bintang)…”
Awalnya memang kutujukan pada DILAN (ku), tapi pikiranku
beralih. Siapapun itu, aku sangat berterimakasih pada engkau yang akhirnya
mengajakku. Kau tahu aku sangat kesulitan menemukan kesempatan ini, sedang
mimpiku kian membunuh. Perlahan dan perih.
Malam ini kutegaskan lagi kalau alam benar benar akan akan
mengejekku bila aku tak penuhi panggilannya. Tentu saja aku sakit. Kini terserah.
Aku menunggu. Benar-benar.
Kau. Atau mungkin saja dia.
Dan bila malam telah usai, mari sambut pagi bersamaku.
Yogya,
21 September 2014
Wednesday, April 16, 2014
Semesta Memanggil
Dear
Semesta,
Beberapa
hari ini pikiranku selalu disibukkan oleh mimpi bernama ‘alam’. Dan sore tadi
ketika seseorang berkata tentang semeru, hatiku bergejolak lebih kuat lagi.
Telah
terbayang lama tentang hijaunya daun, gagahnya gunung, megahnya petang,
cantiknya senja, birunya laut, terjalnya jalan, lecetnya kaki, pegalnya
bahu,dan bayaran lunas saat berdiri diatas puncak. Aku merindui alam. Sangat.
Tentangnya yang tak pernah mengingkari janjinya untuk menyuguhi keindahan.
Sekarang
ku tanyakan, harus seberapa lebih sabar lagikah aku?. Perlukah kujelaskan
bahwasanya aku tak cukup punya hati lagi untuk memendam keinginan ini?
Allah
Kariim, beri aku kesempatan menemui hari itu.
Yogya,
14 April 2014
Untuk Amanah Baru (Devisi Intelektual)
Dear
Amanah,
Welcome
to the new day, new spirit!!
Satu
tahun ke depan penuh pengabdian (lagi). kali ini harus lebih baik, harus lebih
bisa jadi orang yang lebih bermanfaat. As far as I can, I will do it. No doubt J
Terimakasih
atas amanat ini. Semoga kepercayaan kalian senantiasa bisa kupegang.
Semangat,
Semangat, Semangatt!!
Ingatkan
aku ya kawan, bila suatu masa tanpa sengaja kuabaikan amanat ini. Walau itu
pahit, setidaknya itu obat untuk kesembuhan lalaiku. Dan bila jenuh suatu waktu
mengalahkan semangatku, berikan aku tiang. Paling tidak, tiang itu bisa
menggantikan ketidakhadiranmu. Tapi genggaman tanganmu tentunya lebih berharga.
Yogya
dengan amanah baru, 140414
Monday, April 14, 2014
Bersama rindu
Dear
rumah,
Sudah
dua bulan. Dan satu, dua, atau beberapa bulan ke depan aku tetap belum bisa
pulang. Mungkin karena waktu yang memang belum bisa mengizinkan. Duh, Jangan
tanyakan aku tentang rindu. Akupun bahkan sudah lupa bagaimana rasanya itu. Kukira mungkin sudah terlalu tawar.
Tapi
bukan tentang rindu yang ingin kutulis. Ini lebih karena aku merasa malu.
Malu karena hingga saat ini aku belum bisa apa-apa. Belum bisa menghasilkan apa-apa. Sedang waktuku semakin jauh berlari tanpa perduli aku yang kian payah. Baiklah, kata orang aku terlalu hidup dalam bayang masa lalu dan ribet. Kini saatnya aku membuktikan ‘itu bukan diriku’.
Malu karena hingga saat ini aku belum bisa apa-apa. Belum bisa menghasilkan apa-apa. Sedang waktuku semakin jauh berlari tanpa perduli aku yang kian payah. Baiklah, kata orang aku terlalu hidup dalam bayang masa lalu dan ribet. Kini saatnya aku membuktikan ‘itu bukan diriku’.
~Yeahh..
Yogya berdendang kerinduan, 7 April 2014
Tuesday, April 8, 2014
Menutup Senja *Catatan Akhir Pengurus Keamanan*
Dear Senja,
Setahun berlalu ya
kawan..
Terbilang singkat, ya
memang beginilah waktu. Tak ada tombol ‘pause’ untuk kita sejenak berkuasa
menghentikan. Aku yang dulu awal mati-matian menolak ‘kursi’ ini, toh akhirnya
bisa sampai di garis akhir pengabdian. Iya,
alasan amanat mengabdilah yang membuatku menerima dan tetap bertahan dengan
jabatan ini seberapapun pahitnya. Kesal, menangis, terharu, tersindir, dicela,
ah.. rasanya sudah terlalu biasa. Hingga bumbu terpedas ketika diingatkan seseorang
pun pernah kutelan bulat-bulat.
Tapi terimakasih kawan,
karena tak lupa kalian sisakan manis di sini *tunjuk hati*. Tentu ini yang akan
lebih abadi dan terkenang selalu. Aku lebih banyak mensyukuri memiliki kalian,
daripada mengeluh tentang sikap kalian. Percayalah J
Senja semakin larut,
saatnya menutup hari. Juga mengistirahatkan hati. Terlihat semburat senja masih
menyisakan eloknya dan rasa tak ingin beranjak. Tapi ketahuilah, malam dengan
taburan bintang akan menggantikannya. Pun bulan turut serta menyempurnakannya.
Namun jangan sampai
terlena, mari bersiap menyambut megahnya pagi. Melukis pelangi di langit biru
kita. Memetik hujan yang menyemai bumi. Mengabadikan kisah dengan aksara cinta.
I have some really
beautiful memories of our friendship. And I don’t want to lose them. Thanks for
everything J
Yogya, berselimut kenangan.
300314
Saturday, February 1, 2014
Bagiku teman..
Dear pagi,
Dalam hidup kita mengenal pertemanan.
Dan aku memilih untuk tak menaruh hati ini dalam-dalam pada
satu insan.
Bukankah hal ini sangat menyakitkan?
Yang kulakukan saat ini hanyalah mencari sebanyak-banyaknya
teman yang bisa kuperjuangkan.
Dan aku benar-benar menikmatinya.
Aku benar-benar menikmatinya, oh iyakah?
Aku mencintaimu kawan.
Bahkan sebelum kau menjawabnya,, sebelum kau menyadarinya,
dan sebelum kau mengizinkannya.
Untuk kedepan, aku bahkan tak berharap kalian mengingatku.
Entah mengapa hal ini terucap tanpa alasan.
Pun aku tak mengerti atas hati ini.
-171213-
Sunday, January 19, 2014
Bayangmu
Pena ini
kembali bercerita tentangmu. Entah untuk yang keberapa kalinya.
Bukan inginku
untuk selalu memikirkanmu, hanya saja terkadang aku memilih untuk larut dalam
bayangmu. Menikmati setiap kenangan yang mungkin saja bisa menenggelamkan dan
mematikanku.
Aku selalu
terjebak dalam memori masa lalu kita.
Entah sampai
kapan aku mampu bertahan.
Terkadang
fikirku sesempit inikah duniaku?
Lihat
aku,setiap soreku hampir selalu habis oleh tuliasan-tulisan cerita masa kita.
Aku ingin
mengakhirinya.
Tentu saja!.
Yogya,
310813
Subscribe to:
Posts (Atom)