Monday, December 8, 2014

The End

Dear Dilan,
Sudah berapa hari terlewat? Bahkan aku tak berniat untuk mengingat. Pun kalau kau telah benar benar melupakanku, aku akan baik baik saja. Percayalah.
Dan yang harus kau tahu, sebenarnya aku telah memutuskan darinya. Seperti yang dulu pun pernah kulakukan padamu. Memang bukan inginku, tapi memang tugasku. Aku tak menginginkan tumbuh terlalu jauh. Mungkin karna belum waktunya kurasa. Atau diriku yang tak cukup dewasa menghadapi ini semua??
Dilan,
Mungkin aku yang tak cukup hati menjalani ini.
Mari kita akhiri saja,
Bila cinta itu bahagia, mengapa aku tidak???

Yogya, 07 Desember 2014

Tuesday, September 23, 2014

Menunggui Gunung bersama DILAN

Dear Malam,
Kemarin sempat menulis seperti ini di sosmed..
“…someone who take me account to the mount climbing for the first time (titik dua bintang)…”

Awalnya memang kutujukan pada DILAN (ku), tapi pikiranku beralih. Siapapun itu, aku sangat berterimakasih pada engkau yang akhirnya mengajakku. Kau tahu aku sangat kesulitan menemukan kesempatan ini, sedang mimpiku kian membunuh. Perlahan dan perih.

Malam ini kutegaskan lagi kalau alam benar benar akan akan mengejekku bila aku tak penuhi panggilannya. Tentu saja aku sakit. Kini terserah. Aku menunggu. Benar-benar.

Kau. Atau mungkin saja dia.

Dan bila malam telah usai, mari sambut pagi bersamaku.

                                                                                     Yogya, 21 September 2014

Wednesday, April 16, 2014

Semesta Memanggil

Dear Semesta,

Beberapa hari ini pikiranku selalu disibukkan oleh mimpi bernama ‘alam’. Dan sore tadi ketika seseorang berkata tentang semeru, hatiku bergejolak lebih kuat lagi.

Telah terbayang lama tentang hijaunya daun, gagahnya gunung, megahnya petang, cantiknya senja, birunya laut, terjalnya jalan, lecetnya kaki, pegalnya bahu,dan bayaran lunas saat berdiri diatas puncak. Aku merindui alam. Sangat. Tentangnya yang tak pernah mengingkari janjinya untuk menyuguhi keindahan.

Sekarang ku tanyakan, harus seberapa lebih sabar lagikah aku?. Perlukah kujelaskan bahwasanya aku tak cukup punya hati lagi untuk memendam keinginan ini?
Allah Kariim, beri aku kesempatan menemui hari itu.


                                                Yogya, 14 April 2014

Untuk Amanah Baru (Devisi Intelektual)

Dear Amanah,
Welcome to the new day, new spirit!!
Satu tahun ke depan penuh pengabdian (lagi). kali ini harus lebih baik, harus lebih bisa jadi orang yang lebih bermanfaat. As far as I can, I will do it. No doubt J
Terimakasih atas amanat ini. Semoga kepercayaan kalian senantiasa bisa kupegang.
Semangat, Semangat, Semangatt!!
Ingatkan aku ya kawan, bila suatu masa tanpa sengaja kuabaikan amanat ini. Walau itu pahit, setidaknya itu obat untuk kesembuhan lalaiku. Dan bila jenuh suatu waktu mengalahkan semangatku, berikan aku tiang. Paling tidak, tiang itu bisa menggantikan ketidakhadiranmu. Tapi genggaman tanganmu tentunya lebih berharga.

                                                                        

            Yogya dengan amanah baru, 140414

Monday, April 14, 2014

Bersama rindu

Dear rumah,
Sudah dua bulan. Dan satu, dua, atau beberapa bulan ke depan aku tetap belum bisa pulang. Mungkin karena waktu yang memang belum bisa mengizinkan. Duh, Jangan tanyakan aku tentang rindu. Akupun bahkan sudah lupa bagaimana rasanya itu. Kukira mungkin  sudah terlalu tawar.
Tapi bukan tentang rindu yang ingin kutulis. Ini lebih karena aku merasa malu.
Malu karena hingga saat ini aku belum bisa apa-apa. Belum bisa menghasilkan apa-apa. Sedang waktuku semakin jauh berlari tanpa perduli aku yang kian payah. Baiklah, kata orang aku  terlalu hidup dalam bayang masa lalu dan ribet. Kini saatnya aku membuktikan ‘itu bukan diriku’.
~Yeahh..

                                                       Yogya berdendang kerinduan, 7 April 2014

Tuesday, April 8, 2014

Menutup Senja *Catatan Akhir Pengurus Keamanan*

Dear Senja,
Setahun berlalu ya kawan..
Terbilang singkat, ya memang beginilah waktu. Tak ada tombol ‘pause’ untuk kita sejenak berkuasa menghentikan. Aku yang dulu awal mati-matian menolak ‘kursi’ ini, toh akhirnya bisa sampai di garis akhir pengabdian.  Iya, alasan amanat mengabdilah yang membuatku menerima dan tetap bertahan dengan jabatan ini seberapapun pahitnya. Kesal, menangis, terharu, tersindir, dicela, ah.. rasanya sudah terlalu biasa. Hingga bumbu terpedas ketika diingatkan seseorang pun pernah kutelan bulat-bulat.
Tapi terimakasih kawan, karena tak lupa kalian sisakan manis di sini *tunjuk hati*. Tentu ini yang akan lebih abadi dan terkenang selalu. Aku lebih banyak mensyukuri memiliki kalian, daripada mengeluh tentang sikap kalian. Percayalah J
Senja semakin larut, saatnya menutup hari. Juga mengistirahatkan hati. Terlihat semburat senja masih menyisakan eloknya dan rasa tak ingin beranjak. Tapi ketahuilah, malam dengan taburan bintang akan menggantikannya. Pun bulan turut serta menyempurnakannya.
Namun jangan sampai terlena, mari bersiap menyambut megahnya pagi. Melukis pelangi di langit biru kita. Memetik hujan yang menyemai bumi. Mengabadikan kisah dengan aksara cinta.

I have some really beautiful memories of our friendship. And I don’t want to lose them. Thanks for everything J

                      Yogya, berselimut kenangan. 300314

Saturday, February 1, 2014

Bagiku teman..

Dear pagi,
Dalam hidup kita mengenal pertemanan.
Dan aku memilih untuk tak menaruh hati ini dalam-dalam pada satu insan.
Bukankah hal ini sangat menyakitkan?
Yang kulakukan saat ini hanyalah mencari sebanyak-banyaknya teman yang bisa kuperjuangkan.
Dan aku benar-benar menikmatinya.
Aku benar-benar menikmatinya, oh iyakah?
Aku mencintaimu kawan.
Bahkan sebelum kau menjawabnya,, sebelum kau menyadarinya, dan sebelum kau mengizinkannya.
Untuk kedepan, aku bahkan tak berharap kalian mengingatku.
Entah mengapa hal ini terucap tanpa alasan.
Pun aku tak mengerti atas hati ini.

                                                                                                                                                                -171213-

Sunday, January 19, 2014

Bayangmu

Pena ini kembali bercerita tentangmu. Entah untuk yang keberapa kalinya.
Bukan inginku untuk selalu memikirkanmu, hanya saja terkadang aku memilih untuk larut dalam bayangmu. Menikmati setiap kenangan yang mungkin saja bisa menenggelamkan dan mematikanku.
Aku selalu terjebak dalam memori masa lalu kita.
Entah sampai kapan aku mampu bertahan.
Terkadang fikirku sesempit inikah duniaku?
Lihat aku,setiap soreku hampir selalu habis oleh tuliasan-tulisan cerita masa kita.
Aku ingin mengakhirinya.
Tentu saja!.

                                                                                                                        Yogya, 310813