Monday, April 29, 2013


Salam,
Ini untuk kedua kalinya aku kirim memori. Walau memori pertama tak sempat kudengar saat itu.
Awal kisah ini, bukan lagi fb yang mengantarkan cerita tentang hidupku. Ya, aku beralih ke dunia chatting untuk melupakan dunia lamaku. Walau sesekali aku tetap menengok ke belakang hanya sekedar memenuhi rasa rindu yang terkadang hadir.
Awalnya, aku hanya ingin sekedar mencari teman, belajar bahasa inggris dengan orang asing. Untuk melancarkan speakingku yang masih belepotan. Iseng saja aku masuk ke salah satu room yang itu berbahasa inggris. Setelah berkenalan, dia meminta alamat fb ku. Tentu saja aku tak keberatan, toh menambah teman tak kan jadi masalah bagiku.
Saat aku online, dia selalu mengajakku chatting. Bahkan dia menyatakan cintanya saat awal-awal kita belum terlalu dekat. Dan aku pun tak pernah menanggapinya. Aku tahu hal itu hanyalah gurauan dari orang iseng belaka. Tetapi, hampir setiap hari aku mendengarnya. Dia selalu menyakinkanku bahwa dia akan datang ke Indonesia dan menikah denganku hingga mempunyai bayi-bayi yang cantik. Aku hanya tertawa. Bagaimana tidak, mempunyai pacar orang asing tak pernah sekalipun terlintas olehku, apalagi menjadi istrinya. Itu bukan sebuah mimpi yang menarik bagiku.
Berulang kali ia meminta nomor hapeku, tapi aku tak pernah memberinya. Beribu kali ia menyatakan cintanya, tapi aku tak pernah menanggapinya .
Hingga suatu ketika dia bertanya padaku, apakah aku telah jatuh hati pada pria lain sehingga aku tak pernah memberinya kesempatan bahkan untuk sekedar menjadi pacarnya ?
Tentu saja aku mengiyakannya. Di sisi lain aku ingin menghindarinya, membuatnya membenciku. Dan di sudut lain hal itu memang benar adanya. Aku memang telah meletakkan hatiku pada salah satu teman di kampusku. Hal itu karna aku mengagumi kedewasaan dan kecerdasannya.
Sungguh, dia adalah orang paling idiot yang pernah ku kenal. Dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkanku termasuk mencabut kembali cinta yang ku tanam di lain hati.
Dia selalu mengancam akan bunuh diri saja jika tak bisa mendapatkanku.
Suatu kali, aku benar-benar jengkel dibuatnya dan benar-benar menghapus pertemanan dengannya di fb. Tak kusangka bahwa itu ialah awal dari tangisanku.
Dia benar-benar mencoba untuk mati. Tak habis pikir aku dibuatnya. Aku mengetahuinya dari salah satu temannya yang kebetulan dia juga temanku.
Sekarang kondisinya kritis. Dia overdosis karena menelan banyak obat tidur. Entahlah, aku hanya merasa simpati dan khawatir tentangnya. Dan hal itu bukanlah cinta.
Temanku menyarankan, bila dia sembuh nanti, terimalah cintanya. Dia begitu mencintaiku hingga berani melakukan hal bodoh. Cinta memang buta katanya.
Lagipula, orang yang kuletakkan hati daripadanya, tak lebih menganggapku hanya sebagai teman. Aku tahu itu. Dan aku menyadarinya.
Tapi untuk menerima cintanya, adalah hal yang sulit bagiku. Banyak pertimbangan untukku. Selain karna aku tak bisa LDR (Long Distance Relationship), orang tua pastilah tak akan merestui.  Bahkan hanya untuk sekedar menjadi pacarnya, aku takut dia memintaku lebih. Menjadikanku istrinya adalah impiannya.
Saat ini aku hanya bisa menangis sembari berdoa. Berharap tak terjadi apa-apa dengannya. Dan semuanya menjadi baik-baik saja.