Tuesday, September 15, 2015

We and Our Smartphones

Dear kawan,
Biarkan aku memberitahukannya kepadamu. Suatu keresahan yang cukup lama tersimpan dan baru sempat ku tuliskan. Maukah kau mendengarkannya baik-baik? Baiklah, kita mulai saja.
Sadarkah kalian? Kita hidup di zaman dimana ketika sekelompok manusia duduk bersama, maka gadgetlah yang menjadi menu utama.
Kalian pernah mengalaminya?
Sms dan janjian begitu lama direncanakan, tapi saat masa bertemunya tiba, tak ada yang sanggup bertahan berbagi cerita. Atau kalaupun ada hanya bertahan pada lima menit pertama. Selebihnya hanya suara-suara penanda bbm masuk, whatsapp grup bersahutan, atau notification like di instagram. Lantas semua perhatian teralihkan pada ‘hape pintarnya’ masing-masing.
Remaja sekarang sudah mulai bertransformasi menjadi generasi yang menunduk, bukan alih-alih karena ghadul bashar, tapi gadgetlah yang membuat mereka tampak sibuk.
Ironi sekali. Padahal anaknya steve jobs, miliuner kelas dunia, tidak memperbolehkan anaknya bermain dengan yang namanya smartphone. Dia malah melepaskan anaknya supaya bebas bermain di sawah, berkotor-kotor dia di dalam lumpur, dan mencoba berbagai permainan tradisional lainnya yang menyenangkan. Itu karena dia sendiri sadar tentang bahaya smartphone yang mencandukan, melenakan atau bahkan menjauhkan anak-anak dari dunia yang semestinya. Sedang kita berlomba-lomba mencarikan gadget keluaran terbaru biar dibilang kekinian.
Dan itu juga mengapa perlu kusampaikan di sini, bahwasanya temanmu adalah siapa yang duduk semeja denganmu, bukan dia yang tersimpan dalam dunia maya tanpa tahu jelas keberadaannya.
Hey, bukan sebuah kesalahan kok punya smartphone. Tentu teknologi ini penting juga biar kita tidak ketinggalan informasi. Tapi ya alangkah baiknya bila kalian sedang duduk berhadapan, jauhkan sejenak dari benda apa yang biasa kalian jalankan dengan sentuhan. Tumpuk dan jadikan sebagai pajangan. Sstt…sahabatmu yang nyata, jangan pernah diabaikan J


Sambil ngetawain pemandangan, 14 September 2015.

Sunday, September 6, 2015

Ucapan Selamat untuk Sahabat

Beberapa hari ini, aku mulai menyadari sesuatu. Mungkin memang benar, mencintai bukan perkara mengikat, tetapi melepaskan.
Dua dari sekian sahabatku, mulai menanjak hidup yang baru. Merintis kehidupan bersama orang lain. Tentu kelak kita akan melewati tahap yang sama. Bertemu dengan orang baru, berkenalan, dan mungkin tanpa disangka ternyata kita satu arah tujuan. Lalu kita memutuskan pilihan. smile emoticon
Kalau sudah begitu, tanpa sadar kita mulai mengabaikan satu persatuteman kita. Yang dulu biasa ngajakin makan bareng cuma dengan ngetuk pintu kos, sekarang harus pake janjian dulu biar bisa ketemu. Yang dulu bisa gila bareng dan jalan semaunya, kini harus tanya dulu ada waktu atau enggak. Yang dulu masih sering nanyain tugas udah kelar ato belom, kini pas ditelvon pun operator terus yang ngangkat, dibilangnya penerima sibuk.
Iya, begitulah hidup. Karena aku mencintai yang sewaktu waktu pergi, aku telah belajar bagaimana menyikapi kehilangan. smile emoticon
Selamat merayakan sabtu malam,
salam sayang dari sahabat lama {}, *sambil makan potongan apel terakhir*

Monday, March 2, 2015

Aksara Terakhir


Untukmu,
Yang pernah bersama atau sekedar singgah,
Dalam satu barisan masa, satu pagar bertuliskan ‘al hikmah’.

Pada akhirnya, kita telah sampai pada detik ini kawan. Melegakan bukan? Kupikir setidaknya kita telah melewati satu per satu halaman yang telah di sediakan. Sudah saatnya ganti buku, dengan hari yang baru.

Dan tentang cerita kemarin, kita takkan bicara tentang kelemahan, kesalahan maupun kegagalan. Keamanan tetaplah keamanan. Ia tetaplah manusia yang takkan sempurna. Maafkanlah tentang kenyataan ini.

Juga untuk orang-orang terkasihku (re: kalian) dalam doa, nama namanya selalu dan takkan pernah 
lelah ku sebut satu per satu, agar yang Maha Pengasih memberkati dan menuntun dalam terangnya selalu. 

Walaupun sebetulnya banyak benar yang membuat hatiku sedemikian rupa, tapi aku tetaplah suka. Untuk segala kenangan yang tumbuh dengan nama-nama yang akan terus ku ingat, itupun menjadi anugerah yang tak terkira. Terimakasih…

Aku tak lagi menemukan kata, tapi aku bahagia. Segala yang tak terbayangkan ini selesai sudah dan menjadi sebuah cerita. Kelak pasti kan kurindukan masa masa ini. Terimakasih pernah menjadi bagian dari adanya AKU.

                                                                                                                                                                                                                                                            Peluk erat,

                                                                                         Tari