Friday, November 15, 2013

Tentang Ayahku

Lagu ini mengingatkanku tentang ayahku.
I love my Father so much. :* :* :*
He is my hero, my Idol, my motivator.
He is my everything.

Ebiet G Ade- Titip Rindu Buat Ayah.

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…

Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…

Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…

Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia



Ayah, aku tak bisa menjanjikan apapun.

Namun bhaktiku padamu akan senantiasa menjadi semangatku.

Monday, November 11, 2013

Catatan Hati Pengurus Keamanan

Ku  awali langkahku untuk mengaji disini. Mencari ilmu sebanyak mungkin agar dapat kuamalkan kelak. Ku bawa bekal nasihat dari ayahku agar aku bersungguh-sungguh. Jadilah wanita yang kuat, tegar, dan mandiri. Usahakan selalu bekerja keras, cerdas, dan tuntas. Begitu tuturnya.
Aku selalu berprinsip untuk tidak terlalu memperdulikan apa yang dikatakan teman-temanku. Apalagi hal itu adalah perkataan yang menyakitkan.
‘Neg ngrungokake omongane wong liyo, awakmu bakalan loro ati terus’.  Iya, memang begitulah adanya. Namun, saya menyadari bahwa aku adalah ternyata seorang pendengar yang baik. Lalu akulah sang penerima sakit hati itu.
Maka saat aku dipilih menjadi pengurus keamanan, hatiku cenderung menolak. Walau amanat ini tetap kuterima sebagai bentuk pengabdianku pada pondok ini. Sungguh, hanya alasan mengabdilah yang membuatku tetap bertahan dengan jabatan ini. Aku selalu berharap keberkahan dari setiap tindakan yang kupilih. Bercermin pada cita-cita, niat dan tujuan awal jugalah yang membuatku terus bertahan untuk kondisi yang pahit ini.
Walau perkataanmu menyakitkan, walau pandangan sinismu menyakitkan, walau sikapmu menyakitkan, aku TETAP akan terus bertahan disini. Mungkin sikap diam yang kuambil hanyalah bentuk pelarian dari air mata yang ingin kutumpahkan namun aku melarangnya. Jangan pikir dengan semua yang kau lakukan kepadaku membuatku mengambil keputusan keluar dari sini. Kalaupun aku keluar, kau bukanlah alasan yang melatarbelakanginya.
Sungguh, bila boleh ku berkata jujur, aku hampir tidak kuat menjalani keadaan ini. Aku harus mengorbankan waktu dan perasaanku setahun kedepan untuk mengawasi kalian. Mengurusi kalian yang manja, mengurusi kemalasan kalian, mendengarkan alasan-alasan kalian yang terkadang aneh, janggal dan tidak masuk akal. Dan tidak jarang aku diharuskan menjaga ‘image’didepan kalian. Aku juga harus mengorbankan UKM yang sudah aku dambakan dan kuikuti semenjak MA hanya untuk bisa fokus dengan mengurusi kalian saja. Hal itu sungguh menyakitkan ketika kukorbankan semua untuk kalian, ternyata kalian yang tidak mau mengerti aku.
Padahal, sebenarnya kupikir divisi ini tidaklah perlu. Bukankah kalian sudah seorang mahasiswa?. Umur yang sudah sepantasnya disebut dewasa. Umur yang sudah sadar akan dirinya sendiri. Yang tahu akan hak dan kewajibannya tanpa harus disuruh dan diperintah. Apalagi sampai harus diawasi dari orang lain. Itu sungguh memalukan menurut saya.
Tidakkah kalian diajarkan hal itu dari guru anda. Dari orang tua kalian?.
Sebenarnya taat aturan bukanlah suatu hal yang sulit. Tepat waktu bukanlah hal yang sulit pula. Semuanya bisa dipraktekkan melalui pembiasaan. Yang penting bertekad kuat untuk mau berubah ke arah yang lebih baik. Mengapa tidak?

Aku akui, tidak semua orang sadar akan hak dan kewajibannya. Terkadang mereka juga lupa akan tujuan awal dan niat yang dibawa dari rumah. Dan khilaf, malas, dan semua hal yang negatif lainnya itu pasti ada. Namun apakah kita mau jadi orang yang kalah dengan keadaan? Tentu tidak bukan? Mari berjuang bersama-samaku...                                                           Yogyakarta, 08 November 2013 

Monday, November 4, 2013

Rindu Senja Masa Silam..

Senja ini kembali menyeretku pada tahun-tahun silam, mengorek memori yang sempat terlupa sejenak olehku. Di masa ketika aku masih berseragam putih biru.
Dulu...
Aku selalu senang masuk ke kamar kakakku. Walau sekedar duduk menghabiskan waktu, melihat-lihat dinding, membuka-buka bukunya, meng’operasi’ almarinya, dan entah apapun yang bisa kulakukan saat itu.
Aku selalu belum puas melakukannya sekali dua kali..
Aku selalu mencari-cari kesempatan untuk bisa membaca-baca apapun yang ada di situ.
Aku juga selalu terkesan dengan tulisan kakakku yang latin dan super rapi. Tepatnya kagum sih. Untuk seorang cowok, itu termasuk kategori keren :D
Di setiap lembar bukunya, selalu ada gambar-gambar lucu, kata-kata penyemangat, atau sekedar tulisan narsis tentang dirinya.
Dan yang tak lupa dari tulisannya dalah tentang mimpi-mimpinya.
Tentang rencana ke depan hidupnya.
Saat aku bosan, aku selalu masuk untuk menyuntik semangatku lewat tulisan-tulisan darinya.
Bahagianya kala itu.
Dan aku selalu menangis ketika kakakku memarahiku saat aku lupa atau tak sempat menutup pintunya, maupun memberesi kembali barangnya dan melihat kamarnya telah berubah.
Walau begitu, sebenarnya aku hanya tertawa saja dibelakangnya, dan cuek sekali.
Toh nyatanya aku mengulangi perbuatanku esok kalinya.. :D
saya suka saya suka,,
Rindu masa masa kala itu.. L


Yogyakarta, 19 Oktober 2013