Wednesday, April 16, 2014

Semesta Memanggil

Dear Semesta,

Beberapa hari ini pikiranku selalu disibukkan oleh mimpi bernama ‘alam’. Dan sore tadi ketika seseorang berkata tentang semeru, hatiku bergejolak lebih kuat lagi.

Telah terbayang lama tentang hijaunya daun, gagahnya gunung, megahnya petang, cantiknya senja, birunya laut, terjalnya jalan, lecetnya kaki, pegalnya bahu,dan bayaran lunas saat berdiri diatas puncak. Aku merindui alam. Sangat. Tentangnya yang tak pernah mengingkari janjinya untuk menyuguhi keindahan.

Sekarang ku tanyakan, harus seberapa lebih sabar lagikah aku?. Perlukah kujelaskan bahwasanya aku tak cukup punya hati lagi untuk memendam keinginan ini?
Allah Kariim, beri aku kesempatan menemui hari itu.


                                                Yogya, 14 April 2014

Untuk Amanah Baru (Devisi Intelektual)

Dear Amanah,
Welcome to the new day, new spirit!!
Satu tahun ke depan penuh pengabdian (lagi). kali ini harus lebih baik, harus lebih bisa jadi orang yang lebih bermanfaat. As far as I can, I will do it. No doubt J
Terimakasih atas amanat ini. Semoga kepercayaan kalian senantiasa bisa kupegang.
Semangat, Semangat, Semangatt!!
Ingatkan aku ya kawan, bila suatu masa tanpa sengaja kuabaikan amanat ini. Walau itu pahit, setidaknya itu obat untuk kesembuhan lalaiku. Dan bila jenuh suatu waktu mengalahkan semangatku, berikan aku tiang. Paling tidak, tiang itu bisa menggantikan ketidakhadiranmu. Tapi genggaman tanganmu tentunya lebih berharga.

                                                                        

            Yogya dengan amanah baru, 140414

Monday, April 14, 2014

Bersama rindu

Dear rumah,
Sudah dua bulan. Dan satu, dua, atau beberapa bulan ke depan aku tetap belum bisa pulang. Mungkin karena waktu yang memang belum bisa mengizinkan. Duh, Jangan tanyakan aku tentang rindu. Akupun bahkan sudah lupa bagaimana rasanya itu. Kukira mungkin  sudah terlalu tawar.
Tapi bukan tentang rindu yang ingin kutulis. Ini lebih karena aku merasa malu.
Malu karena hingga saat ini aku belum bisa apa-apa. Belum bisa menghasilkan apa-apa. Sedang waktuku semakin jauh berlari tanpa perduli aku yang kian payah. Baiklah, kata orang aku  terlalu hidup dalam bayang masa lalu dan ribet. Kini saatnya aku membuktikan ‘itu bukan diriku’.
~Yeahh..

                                                       Yogya berdendang kerinduan, 7 April 2014

Tuesday, April 8, 2014

Menutup Senja *Catatan Akhir Pengurus Keamanan*

Dear Senja,
Setahun berlalu ya kawan..
Terbilang singkat, ya memang beginilah waktu. Tak ada tombol ‘pause’ untuk kita sejenak berkuasa menghentikan. Aku yang dulu awal mati-matian menolak ‘kursi’ ini, toh akhirnya bisa sampai di garis akhir pengabdian.  Iya, alasan amanat mengabdilah yang membuatku menerima dan tetap bertahan dengan jabatan ini seberapapun pahitnya. Kesal, menangis, terharu, tersindir, dicela, ah.. rasanya sudah terlalu biasa. Hingga bumbu terpedas ketika diingatkan seseorang pun pernah kutelan bulat-bulat.
Tapi terimakasih kawan, karena tak lupa kalian sisakan manis di sini *tunjuk hati*. Tentu ini yang akan lebih abadi dan terkenang selalu. Aku lebih banyak mensyukuri memiliki kalian, daripada mengeluh tentang sikap kalian. Percayalah J
Senja semakin larut, saatnya menutup hari. Juga mengistirahatkan hati. Terlihat semburat senja masih menyisakan eloknya dan rasa tak ingin beranjak. Tapi ketahuilah, malam dengan taburan bintang akan menggantikannya. Pun bulan turut serta menyempurnakannya.
Namun jangan sampai terlena, mari bersiap menyambut megahnya pagi. Melukis pelangi di langit biru kita. Memetik hujan yang menyemai bumi. Mengabadikan kisah dengan aksara cinta.

I have some really beautiful memories of our friendship. And I don’t want to lose them. Thanks for everything J

                      Yogya, berselimut kenangan. 300314