Salam,
Ini
untuk kedua kalinya aku kirim memori. Walau memori pertama tak sempat kudengar
saat itu.
Awal
kisah ini, bukan lagi fb yang mengantarkan cerita tentang hidupku. Ya, aku
beralih ke dunia chatting untuk melupakan dunia lamaku. Walau sesekali aku tetap
menengok ke belakang hanya sekedar memenuhi rasa rindu yang terkadang hadir.
Awalnya,
aku hanya ingin sekedar mencari teman, belajar bahasa inggris dengan orang
asing. Untuk melancarkan speakingku yang masih belepotan. Iseng saja aku
masuk ke salah satu room yang itu berbahasa inggris. Setelah berkenalan, dia
meminta alamat fb ku. Tentu saja aku tak keberatan, toh menambah teman tak kan
jadi masalah bagiku.
Saat
aku online, dia selalu mengajakku chatting. Bahkan dia menyatakan cintanya saat
awal-awal kita belum terlalu dekat. Dan aku pun tak pernah menanggapinya. Aku
tahu hal itu hanyalah gurauan dari orang iseng belaka. Tetapi, hampir setiap
hari aku mendengarnya. Dia selalu menyakinkanku bahwa dia akan datang ke
Indonesia dan menikah denganku hingga mempunyai bayi-bayi yang cantik. Aku
hanya tertawa. Bagaimana tidak, mempunyai pacar orang asing tak pernah
sekalipun terlintas olehku, apalagi menjadi istrinya. Itu bukan sebuah mimpi
yang menarik bagiku.
Berulang
kali ia meminta nomor hapeku, tapi aku tak pernah memberinya. Beribu kali ia
menyatakan cintanya, tapi aku tak pernah menanggapinya .
Hingga
suatu ketika dia bertanya padaku, apakah aku telah jatuh hati pada pria lain
sehingga aku tak pernah memberinya kesempatan bahkan untuk sekedar menjadi pacarnya
?
Tentu
saja aku mengiyakannya. Di sisi lain aku ingin menghindarinya, membuatnya
membenciku. Dan di sudut lain hal itu memang benar adanya. Aku memang telah
meletakkan hatiku pada salah satu teman di kampusku. Hal itu karna aku
mengagumi kedewasaan dan kecerdasannya.
Sungguh,
dia adalah orang paling idiot yang pernah ku kenal. Dia akan melakukan apa saja
untuk mendapatkanku termasuk mencabut kembali cinta yang ku tanam di lain hati.
Dia
selalu mengancam akan bunuh diri saja jika tak bisa mendapatkanku.
Suatu
kali, aku benar-benar jengkel dibuatnya dan benar-benar menghapus pertemanan
dengannya di fb. Tak kusangka bahwa itu ialah awal dari tangisanku.
Dia
benar-benar mencoba untuk mati. Tak habis pikir aku dibuatnya. Aku
mengetahuinya dari salah satu temannya yang kebetulan dia juga temanku.
Sekarang
kondisinya kritis. Dia overdosis karena menelan banyak obat tidur. Entahlah,
aku hanya merasa simpati dan khawatir tentangnya. Dan hal itu bukanlah cinta.
Temanku
menyarankan, bila dia sembuh nanti, terimalah cintanya. Dia begitu mencintaiku
hingga berani melakukan hal bodoh. Cinta memang buta katanya.
Lagipula,
orang yang kuletakkan hati daripadanya, tak lebih menganggapku hanya sebagai
teman. Aku tahu itu. Dan aku menyadarinya.
Tapi
untuk menerima cintanya, adalah hal yang sulit bagiku. Banyak pertimbangan
untukku. Selain karna aku tak bisa LDR (Long Distance Relationship), orang tua
pastilah tak akan merestui. Bahkan hanya
untuk sekedar menjadi pacarnya, aku takut dia memintaku lebih. Menjadikanku
istrinya adalah impiannya.
Saat
ini aku hanya bisa menangis sembari berdoa. Berharap tak terjadi apa-apa
dengannya. Dan semuanya menjadi baik-baik saja.
No comments:
Post a Comment