Ku awali langkahku untuk mengaji disini. Mencari
ilmu sebanyak mungkin agar dapat kuamalkan kelak. Ku bawa bekal nasihat dari
ayahku agar aku bersungguh-sungguh. Jadilah wanita yang kuat, tegar, dan
mandiri. Usahakan selalu bekerja keras, cerdas, dan tuntas. Begitu tuturnya.
Aku selalu berprinsip untuk tidak
terlalu memperdulikan apa yang dikatakan teman-temanku. Apalagi hal itu adalah
perkataan yang menyakitkan.
‘Neg ngrungokake omongane wong
liyo, awakmu bakalan loro ati terus’.
Iya, memang begitulah adanya. Namun, saya menyadari bahwa aku adalah
ternyata seorang pendengar yang baik. Lalu akulah sang penerima sakit hati itu.
Maka saat aku dipilih menjadi
pengurus keamanan, hatiku cenderung menolak. Walau amanat ini tetap kuterima
sebagai bentuk pengabdianku pada pondok ini. Sungguh, hanya alasan mengabdilah
yang membuatku tetap bertahan dengan jabatan ini. Aku selalu berharap
keberkahan dari setiap tindakan yang kupilih. Bercermin pada cita-cita, niat
dan tujuan awal jugalah yang membuatku terus bertahan untuk kondisi yang pahit
ini.
Walau perkataanmu menyakitkan,
walau pandangan sinismu menyakitkan, walau sikapmu menyakitkan, aku TETAP akan
terus bertahan disini. Mungkin sikap diam yang kuambil hanyalah bentuk pelarian
dari air mata yang ingin kutumpahkan namun aku melarangnya. Jangan pikir dengan
semua yang kau lakukan kepadaku membuatku mengambil keputusan keluar dari sini.
Kalaupun aku keluar, kau bukanlah alasan yang melatarbelakanginya.
Sungguh, bila boleh ku berkata jujur,
aku hampir tidak kuat menjalani keadaan ini. Aku harus mengorbankan waktu dan
perasaanku setahun kedepan untuk mengawasi kalian. Mengurusi kalian yang manja,
mengurusi kemalasan kalian, mendengarkan alasan-alasan kalian yang terkadang
aneh, janggal dan tidak masuk akal. Dan tidak jarang aku diharuskan menjaga
‘image’didepan kalian. Aku juga harus mengorbankan UKM yang sudah aku dambakan
dan kuikuti semenjak MA hanya untuk bisa fokus dengan mengurusi kalian saja. Hal
itu sungguh menyakitkan ketika kukorbankan semua untuk kalian, ternyata kalian
yang tidak mau mengerti aku.
Padahal, sebenarnya kupikir divisi
ini tidaklah perlu. Bukankah kalian sudah seorang mahasiswa?. Umur yang sudah
sepantasnya disebut dewasa. Umur yang sudah sadar akan dirinya sendiri. Yang
tahu akan hak dan kewajibannya tanpa harus disuruh dan diperintah. Apalagi
sampai harus diawasi dari orang lain. Itu sungguh memalukan menurut saya.
Tidakkah kalian diajarkan hal itu
dari guru anda. Dari orang tua kalian?.
Sebenarnya taat aturan bukanlah
suatu hal yang sulit. Tepat waktu bukanlah hal yang sulit pula. Semuanya bisa
dipraktekkan melalui pembiasaan. Yang penting bertekad kuat untuk mau berubah
ke arah yang lebih baik. Mengapa tidak?
Aku akui, tidak semua orang sadar
akan hak dan kewajibannya. Terkadang mereka juga lupa akan tujuan awal dan niat
yang dibawa dari rumah. Dan khilaf, malas, dan semua hal yang negatif lainnya
itu pasti ada. Namun apakah kita mau jadi orang yang kalah dengan keadaan?
Tentu tidak bukan? Mari berjuang bersama-samaku... Yogyakarta, 08 November 2013
No comments:
Post a Comment