Monday, November 11, 2013

Catatan Hati Pengurus Keamanan

Ku  awali langkahku untuk mengaji disini. Mencari ilmu sebanyak mungkin agar dapat kuamalkan kelak. Ku bawa bekal nasihat dari ayahku agar aku bersungguh-sungguh. Jadilah wanita yang kuat, tegar, dan mandiri. Usahakan selalu bekerja keras, cerdas, dan tuntas. Begitu tuturnya.
Aku selalu berprinsip untuk tidak terlalu memperdulikan apa yang dikatakan teman-temanku. Apalagi hal itu adalah perkataan yang menyakitkan.
‘Neg ngrungokake omongane wong liyo, awakmu bakalan loro ati terus’.  Iya, memang begitulah adanya. Namun, saya menyadari bahwa aku adalah ternyata seorang pendengar yang baik. Lalu akulah sang penerima sakit hati itu.
Maka saat aku dipilih menjadi pengurus keamanan, hatiku cenderung menolak. Walau amanat ini tetap kuterima sebagai bentuk pengabdianku pada pondok ini. Sungguh, hanya alasan mengabdilah yang membuatku tetap bertahan dengan jabatan ini. Aku selalu berharap keberkahan dari setiap tindakan yang kupilih. Bercermin pada cita-cita, niat dan tujuan awal jugalah yang membuatku terus bertahan untuk kondisi yang pahit ini.
Walau perkataanmu menyakitkan, walau pandangan sinismu menyakitkan, walau sikapmu menyakitkan, aku TETAP akan terus bertahan disini. Mungkin sikap diam yang kuambil hanyalah bentuk pelarian dari air mata yang ingin kutumpahkan namun aku melarangnya. Jangan pikir dengan semua yang kau lakukan kepadaku membuatku mengambil keputusan keluar dari sini. Kalaupun aku keluar, kau bukanlah alasan yang melatarbelakanginya.
Sungguh, bila boleh ku berkata jujur, aku hampir tidak kuat menjalani keadaan ini. Aku harus mengorbankan waktu dan perasaanku setahun kedepan untuk mengawasi kalian. Mengurusi kalian yang manja, mengurusi kemalasan kalian, mendengarkan alasan-alasan kalian yang terkadang aneh, janggal dan tidak masuk akal. Dan tidak jarang aku diharuskan menjaga ‘image’didepan kalian. Aku juga harus mengorbankan UKM yang sudah aku dambakan dan kuikuti semenjak MA hanya untuk bisa fokus dengan mengurusi kalian saja. Hal itu sungguh menyakitkan ketika kukorbankan semua untuk kalian, ternyata kalian yang tidak mau mengerti aku.
Padahal, sebenarnya kupikir divisi ini tidaklah perlu. Bukankah kalian sudah seorang mahasiswa?. Umur yang sudah sepantasnya disebut dewasa. Umur yang sudah sadar akan dirinya sendiri. Yang tahu akan hak dan kewajibannya tanpa harus disuruh dan diperintah. Apalagi sampai harus diawasi dari orang lain. Itu sungguh memalukan menurut saya.
Tidakkah kalian diajarkan hal itu dari guru anda. Dari orang tua kalian?.
Sebenarnya taat aturan bukanlah suatu hal yang sulit. Tepat waktu bukanlah hal yang sulit pula. Semuanya bisa dipraktekkan melalui pembiasaan. Yang penting bertekad kuat untuk mau berubah ke arah yang lebih baik. Mengapa tidak?

Aku akui, tidak semua orang sadar akan hak dan kewajibannya. Terkadang mereka juga lupa akan tujuan awal dan niat yang dibawa dari rumah. Dan khilaf, malas, dan semua hal yang negatif lainnya itu pasti ada. Namun apakah kita mau jadi orang yang kalah dengan keadaan? Tentu tidak bukan? Mari berjuang bersama-samaku...                                                           Yogyakarta, 08 November 2013 

No comments:

Post a Comment